Lombok - suatu pulau di Nusa Tenggara Barat, Indonesia - yang populer dengan alam pesisirnya yang eksotis dan masih perawan.
1 Maret 2016 adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di sana. Melalui penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, saya tiba di Bandara Internasional Lombok, yaitu Praya. Kita bisa melihat patung ikon Lombok di depan bandara tersebut.
Dikarenakan mengikuti rombongan wisata, saya dan rekan-rekan langsung disambut oleh pemandu wisata lokal asli Lombok. Masing-masing orang mendapat semacam syal tenun songket khas Lombok, yang merupakan tanda selamat datang. Berikut adalah foto saya yang menggunakan syal tersebut.

Dari Praya, kami langsung meluncur ke desa Sasak Ende di Sengkol. Desa Sasak merupakan desa milik suku asli Lombok, yaitu suku Sasak. Mereka masih melestarikan budaya asli mereka. Begitu tiba di sana, kami langsung disuguhi pertunjukan tari tradisional yaitu tarian Gendang Beleq (baca: Gendang Belik). Gendang merupakan alat musik pukul yang biasa digunakan di berbagai tempat di Indonesia. Sementara, beleq berarti besar. Secara harfiah, tarian ini merupakan tarian gendang besar. Tentu, disebut demikian karena penari menggunakan gendang yang berukuran besar. Tarian ini memang merupakan tarian penyambutan tamu. Beberapa orang pria menarikannya dengan diiringi alunan musik dari seruling. Seruling yang dipakai juga cukup besar, mirip dengan seruling yang dipakai pada pertunjukan pawang ular. Selain itu, beberapa personil menggunakan simbal. Bunyi yang dihasilkan dari tarian ini begitu riuh dan indah, membuat kami yang mendengar dan menontonnya semakin bersemangat.





Setelah selesai menonton tarian tersebut, kami pun memasuki area desa yang dihuni oleh sekitar 29 keluarga. Desa yang masih dipenuhi bangunan tradisional suku Sasak, yaitu rumah beratap jerami dengan atap bagian depan rumah lebih rendah. Hal ini mengandung makna kerendahhatian, dimana setiap orang yang mau masuk ke dalam rumah mau tidak mau harus menunduk, tanda menghormati sang empunya rumah. Hal yang unik lagi dari rumah tradisional ini adalah bagian lantai dibuat bukan dengan semen, melainkan menggunakan kotoran sapi yang dipergunakan sebagai ganti semen. Kotoran sapi diperoleh langsung dari kandang sapi yang mereka punyai.
Selain itu, setiap desa Sasak memiliki lumbung masing-masing. Bentuk lumbung tersebut menjadi ikon sentral dari Lombok. Banyak dijumpai pada souvenir khas Lombok.Tanah di desa ini masih berbatu. Bicara mengenai batu, warga Sasak juga menunjukkan pada kami batu yang disebut batu bintang.
Di desa yang sama, terdapat pertunjukan tari berikutnya, yaitu tari Perisai A'n (maaf kalau penulisannya salah). Tari ini merupakan tarian dengan genre kepahlawanan. Dua orang penari akan saling 'berperang' menggunakan tongkat dan perisai. Terdapat wasit di tengahnya. Selain itu, tari ini diiringi oleh musik gendang beleq. Di akhir tarian yang kami tonton, diberi kesempatan bagi pengunjung, baik pria maupun wanita, yang ingin mencobanya. Setelah selesai, sang wasit mengumumkan seandainya pengunjung ingin memberi semacam 'saweran' sukarela untuk biaya pemgembangan desa dipersilakan untuk menaruh uang di balik perisai. Saat pengumpulan ini, sang wasit pun menari mengelilingi perisai.
Yang terakhir dari desa Sasak kala itu adalah foto bersama nenek yang ramah, dan cukup gaul. Sebagai tambahan, kita mengatakan 'tabe' untuk permisi, 'matur tampiasih' untuk terima kasih, dan 'pada-pada' (baca: pade-pade) untuk sama-sama. Sekian. Semoga bermanfaat!